Senin, 28 Juli 2008

Sosok Seniman

Sayup-sayup terdengar alunan syair maulud al-habsyi entah di musholla mana, teringatlah salah seorang teman yang suka membawakan syair-syair, baik itu syair maulud al-habsyi, al-barjanji, Diba’i dan yang lainnya. Yakni seorang Saidul Pajeri. Dulu dia sering di panggil para warga untuk membawakan syair-syair tersebut. Bila bertepatan dengan bulan peringatan maulud Nabi dan Isra Mi’rajnya Nabi Muhammad SAW. Dia Juga memberikan pelajaran pada adik-adik kelasnya tiap malam senin dan malam jum’at bersama rekan-rekan seusianya.
Itu hanya sekedar kegiatan yang lumayan rutin dia lakukan, namun disisi lain dia adalah salah seorang seniman yang jarang muncul dikalangan kita. Sayang photo dia nggak punya. Padahal waktu dia manggung dengan syair Madihin nya, dia nyaris tak kalah kalau di bandingkan dengan seorang Jhon Tralala( pelawak Kalimantan Selatan), saat itu di acara ulang tahun salah satu Madrasah yang dihadiri Kepala Daerah Kalimantan Selatan beserta jajarannya, sempat terpingkal-pingkal oleh syair Madihin yang dibawakannya, apalagi di tambah dengan gerak lucu dia sambil memukul gendang, Beberapa kali penonton minta tambahan waktu hanya untuk mendengarkan syair Madihinnya Dia, namun oleh Panitia waktunya dibatasi.sehingga penonton pun menurut saja. Karena acara tersebut dihadiri sang Kepala Daerah.
Namun seniman ini tak hanya pandai membawakan syair-syair, tetapi dia juga pandai bercerita.sehingga teman-teman sering memintanya untuk bercerita dan jika dia tak keberatan maka keluarlah ceritanya. Banyak yang suka mendengarkan ceritanya walau bersaing dengan sandiwara radio saur sepuh kala itu. Tidak heran banyak yang simpati dan suka padanya.
Kala dia bercerita tentang “Di Malam Khaluwat Kasih Bersemi”, banyak juga pendengar setia tak mampu menahan derasnya air mata, mereka dibawa hanyut oleh ceritanya, seakan pendengar sendiri yang berada dalam lingkup kisah itu, bayangkan saja! dia bercerita langsung dihadapan pendengarnya, dia mampu menguasai pendengar tanpa kehilangan konsentrasi pada kisah itu.
Sepenggal kisah yang masih teringat itu.
Di negeri Baghdad tersebutlah seorang pemuda yang rajin ibadah, Abdurrahman al….maaf lupa! Berkhaluwat di dalam kamarnya. Dan di negeri seberang seorang perempuan yang bernama Zahratun Nufus juga berkhaluwat dalam kamarnya. Entah mengapa pada satu malam kedua insan yang berjauhan dan berlainan jenis ini, dipindahkan oleh jin. mereka bangun dari tidur masing-masing kaget bukan main, bukan kah tadi aku tidur dikamarku,pikir abdurahman, kenapa aku ada disini?
Abdurahman bingung sambil mengingat-ingat kejadian barusan, begitu juga dengan Zahratun Nufus kala itu.
Di akhir cerita mereka dikawinkan.
Hmmm…begitu pandainya Seniman kita ini membawakan sebuah kisah, mulai dari sosok seorang Abdurrahman di negerinya..kemudian sosok seorang Zahratun Nufus di negeri seberang, mereka berdua sama-sama merindukan satu sama lain walau belum mengenal, sampai pada perpindahan tubuh mereka berdua di malam itu, yang satu ke negeri Baghdad dan yang satunya ke negeri seberang. Hingga pertemuan keduanya dan melangsungkan perkawinan.
Itulah sosok seorang seniman kita yang pandai membawa alur cerita, syair-syair dan lainnya.
Adakah yang tahu tentang cerita ini….? Hmm….jika dibandingkan dengan Ayat-ayat cintanya milik habiburrahman Elshiraji, rasanya jauh lebih menarik dan menyentuh sekali. Memberikan kesan dan pesan yang bagus buat pendengarnya.
Terima kasih senimanku.Saidul Pajeri!

1 komentar:

TERIMAKASIH JIKA ANDA SUKA BERKOMENTAR!